Kamis, 19 Maret 2015

cerpen: Belajar dari pengalaman

Belajar dari pengalaman
Namaku Tya, aku anak kedua dari dua bersaudara, aku mempunyai keluarga yang aku cintai, aku mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku dan mempunyai seorang kakak lelaki yang sangat aku sayang dan dia juga menyayangi aku, hidup keluarga kami begitu bahagia dan aku merasa keluargaku merupakan keluarga yang sangat ideal. Tapi itu dulu, sekarang keluargaku sudah tidak se ideal itu lagi, karena pada suatu hari...
"apa? bankrut? papa tidak bohong kan? bagaimana ini, bagaimana kita harus menghidupi Tya dan andi" kata mama dengan suara yang terisak.
"maafkan papa ma, papa ditipu sama rekan bisnis papa, dia menguras semua harta kita dan tidak ada yang tersisa, satu-satunya harta benda yang masih kita miliki cuma rumah ini."
"jadi apa yang harus kita lakukan pa?"
"dengan terpaksa kita harus menjual rumah ini untuk kelangsungan hidup kita, dan terpaksa kita harus memindahkan tya ke sekolah yang biasa karena kita sudah tidak sanggup lagi menyekolahkannya ke sekolah favorit" kata papa
"jadi bagaimana dengan kuliah Andi pa?" tanya mama
"Andi harus tetap kuliah, papa gak mau pendidikan anak kita putus cuma karna papa bankrut"
"baiklah kalau menurut papa itu baik, mama setuju"

Sejak hari itu kehidupan keluarga kami berubah drastis, aku pindah sekolah dan uang jajan aku tidak lagi sebanyak dulu, tapi beruntung teman-teman baruku semuanya baik-baik. Namun sayang, keluarga ku sudah berubah. Kak Andi, kakak yang aku sayang sekarang sudah berubah, dia sekarang sudah sering pulang malam bahkan hampir tidak pulang. Setiap ditanya selalu alasannya nginap di rumah teman. Papa sudah tidak tau lagi menghadapi kak Andi, selalu saja ada keributan antara papa dan kak andi. seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"kamu ini kerjanya apa sih? gak jelas, habisin uang seenaknya. Kamu kira kita ini masih kayak dulu, kita ini udah jadi orang miskin. Kamu gak bisa lagi sekarang bersikap seperti anak orang kaya" kata papa dengan nada marah.
"papa ini bawel banget sih, aku capek pa hidup kayak gini terus, aku selalu dihina sama temen akuy karna kita udaj jatuh miskin, bahkan sekarang aku udah gak bisa lagi nonkrong sama mereka kayak biasanya"
"kamu gak perlu mikirin teman kamu, mereka cuma butuh kamu kalau ada perlunya aja, sekarang buktinya mereka ninggalain kamu, yang kamu butuhin sekarang bukan nongkrong bareng teman-teman kamu yang gak jelas tapi yang kamu butuh sekarang gimana caranya kamu cepet lulus kuliah dan bisaa dapat pekerjaan yang bisa kembaliin kita kayak dulu lagi" bentak papa
"gimana aku mau cepet lulus pa, kalau uang semesternya aja belum dilunasin" kata kak andi dengan nada sedikit mengejek
"papa akan usahakan uang buat semester kamu, asalkan kamu bisa cepet lulus"
"teserah papa aja" kata kak andi yang langsung pergi dan menuju ke kamarnya
aku yang mendengar pertengkaran itu hampir menangis, aku selalu melihat adegan yang membuatku muak, akupun lalu menemui kak andi di kamarnya
"kak, boleh aku masuk?" tanyaku
"masuk aja" jawab kak andi
" kak, kakak kenapa sih? kenapa sekarang kakak udah berubah, gak kayak kakak yang aku kenal dulu"
" kehidupan kita yang udah berubah mengharuskan kakak juga harus berubah, kakak bosan hidup kayak gini"
" tapi kakak gak seharusnya kayak gini kak, kakak sekarang udah sering lawan papa sama mama, kakak juga udah gak sayang lagi sama aku, apa kakak gak mikir kalau aku juga mau disayang lagi sama kakak kayak dulu, diajak main, jalan-jalan, aku kangen waktu kakak jahilin aku, aku kangen semuanya"
"itu kenangan masa lalu dan gak mungkin terulang lagi, kamu lupain aja semua kenangan itu" kata kak andi yang kemudian langsung pergi.
aku udah gak kuat lagi, tangisanku pecah seketika. namun aku sadar kalau ini belum berakhir. Aku gak mau buat papa sama mama kecewa dengan aku, aku mau jadi anak yang bisa nanggain hati orang tua. sejak itu aku jadi sering belajar, pertengkaran kakak dan papa sudah menjadi makanan ku sehari-hari jadi aku sudah terbiasa.
dan akhirnya semua itu berbuah manis juga, aku mendapat juara umum dan papa sangat bangga denganku begitupun mama. Aku sangat senang, namun disaat yang bersamaan ada kejadian yang membuat aku sedih, saat aku memegang piala dan berbicara di depan banyak orang, papa mendapat kabar kalau kak andi kecelakaan dan sudah berada di rumah sakit. sontak saja aku terkejut dan mama pun pingsan mendengar kabar itu. kami semu lalu segera ke rumah sakit setelah mama siuman.
"bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya papa pada dokter
"anak bapak kehilangan banyak darah dan harus segera mendapat transfusi darah, apakah diantara keluarga bapak ada tang mempunyai darah bergolongan AB?"
"darah saya AB dok, ambil saja darah saya" kata papa
"syukurlah kalau begitu, mari bapak ikut saya"
papa pun mengikuti dokter untuk donor darah. Berkat darah dari papa, kak andi akhirnya sadar. kak andi sepertinya menyesal akan semua kelakuannya
"pa, maafin andi ya pa, andi uadah lukain hati papa sama mama" kata kak andi
"iya papak maafin"
akhirnya keluarga kami pun kembali lagi seperti dulu, kak andi pun sudah seperti dulu lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar